04 November 2015

Mendaki ke Lembah Ramma



Mendaki itu melelahkan. Namun, banyak kesenangan dibalik perjalanan yang melelahkan tersebut. 

***




Seperti perjalanan yang saya lakukan beberapa bulan lalu. Tepat menjelang 17 Agustus 2015. Ceritanya mau merayakan hari kemerdekaan Indonesia dengan melakukan perjalanan  menuju Lembah Ramma, Malino Kabupaten Gowa. Dalam perjalanan tersebut, saya bersama dengan teman kantor yang  juga tertarik ingin merasakan sensasi dari perjalanan yang notabene melelahkan itu. 

Perjalanan dimulai dari Makassar ke Malino. Perjalanan ini memakan waktu sekitar dua jam perjalanan dengan menggunakan motor. Kenapa motor? Karena diantara kami, tak satupun yang memiliki mobil. Tapi perjalanan menggunakan motor lebih seru. Tidak hanya dari grup kami, tapi rata-rata pendaki lainnya juga menggunakan motor. Sehingga sepanjang perjalanan layaknya seperti konvoi motor sesama pendaki.  

Saat tiba di Malino, tepatnya di Desa Lembanna, desa terakhir sebelum mendaki ke Lembah Ramma. Satu perwakilan dari grup kami melakukan registrasi. Tujuannya untuk mengidentifikasi siapa-siapa saja yang datang dan berapa orang. Hal ini penting jika nantinya tim kami tidak kembali atau tersesat di hutan. Maka tim SAR dapat segera mengetahuinya dan melakukan langkah-langkah untuk menemukan kami. 

Setelah registrasi, kami mencari tempat atau rumah penduduk untuk istrahat sejenak sebelum melakukan pendakian.  Waktu itu sudah menjelang magrib. Namun, rasa bingung melanda kami.  Apakah ingin jalan malam hari, atau menunggu matahari terbit. Tapi, pada hari itu banyak pendaki yang juga  datang untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Hampir ratusan orang bahkan mungkin mencapai ribuan pendaki. Dan hampir semuanya melakukan perjalanan di malam hari. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk ikut jalan pada malam hari. 



Perjalanan pun dimulai dengan perasaan yang cukup menegangkan. Karena hanya beberapa orang dari kami yang membawa alat penerangan seperti senter. Semuanya berpikir perjalanan akan dilakukan pagi hari. Bisa dibayangkan bagaimana sekeliling gelap gulita, di tengah hutan dengan medan berbatu dan terjal. Salah langka atau tertumbuk batu bisa jatuh terguling-guling dan akibatnya bisa fatal. 

Tapi Alhamdulillah, perjalanan malam itu pun tidak terjadi apa-apa. Setelah jalan kaki hampir tiga jam menembus hawa dingin dan gelapnya malam, kami memutuskan untuk istrahat. Karena beberapa diantara kami sudah kelelahan. Dan untungnya tempat kami berdiri dekat dengan sumber air, yakni aliran sungai kecil.

Kami pun mendirikan tenda, dan mulai memasak untuk makan malam. Di tengah acara masak tersebut beberapa anggota tim memulai  canda yang diikuti gelak tawa dari teman-teman lainnya. Hal seperti ini, jarang terjadi, meski kami satu kantor. Karena di kantor semua sibuk dengan tugasnya masing-masing.  Di tempat kami istrahat, sesekali kami melihat cahaya senter dan mendengar teriakan dari beberapa pendaki lain yang masih melanjutkan perjalanan. 

Setelah semua anggota tim santap malam dengan menu ala ala orang lagi berkemah. Semuanya pun masuk ke tenda satu per satu. Malam jadi terasa sangat panjang. Karena udara dingin yang terus menusuk kulit . Semakin malam undaranya pun semakin dingin. Dan diluar tenda, masih terdengar suara samar-samar dari pendaki lainnya. 

Menikmati Suasana Pagi di Hutan. 



Di luar tenda, semuanya mulai terlihat jelas. Meski kami tidak bisa melihat matahari terbit karena terhalang oleh pepohonan yang menjulang. Tapi saya cukup menikmati pagi itu. Udaranya yang segar yang jarang ditemukan di perkotaan. Pemandangan pepohonan dengan sinar matahari yang mencoba menembus sela sela daunnya. Dan kicauan burung yang menghibur di pagi hari. Ah… inikah suara alam bebas. 

Puas menikmati suasana pagi di hutan, kami pun mulai merapikan tenda dan kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini nampak mulai terlihat sulit. Dengan banyaknya pendakian dan turunan yang membuat tubuh harus kerja ekstra. Ditambah lagi beban ransel di punggung. Meski terlihat sulit, perjalanan tak boleh berhenti. Karena sesuatu hal menarik lainnya menanti kami di ujung perjalanan.
Beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki lainnya. Meski baru pertama kali bertemu, tapi semuanya terlihat ramah. Saling memberi semangat untuk bisa sampai ke puncak. Tidak segan untuk menawarkan bantuan atau pun saling berbagi minuman atau pun cemilan. Mungkin karena semuanya punya tujuan yang sama. Dan di hutan kita tidak boleh egois yang hanya memikirkan diri sendiri. Itulah semangat para pendaki yang saya lihat. 

Setelah ngos-ngosan dan melakukan perjalanan hampir setengah hari, kami akhirnya sampai juga di ujung perjalanan. Orang menyebutnya dengan sebutan Talung. Di tempat ini kita bisa melihat panorama alam yang indah. Dengan jejeran pegunungan beratapkan langit biru. Dan dibawahnya terdapat lembah, dimana orang-orang menyebutnya dengan lembah ramma. 

Pada dasarnya saya tidak menyangka, bisa melakukan perjalanan tersebut. Dengan medan naik turun gunung. Dan harus berjalan selama beberapa jam.  Tapi rupanya hal itu bisa dilakukan. Meski melelahkan namun sangat menyenangkan.




27 September 2015

Weekend di Rammang-rammang



Lakukanlah perjalanan di waktu luangmu. Karena bisa jadi nanti kamu ingin melakukan perjalanan namun  kesulitan mencari waktu luang. –anonim-

***

Pesona rammang-rammang telah menjalar dari mulut ke mulut dan menyebar di berbagai media sosial. Pemandangan alam yang natural dan sensasi perjalanan menyusuri sungai menjadikan rammang-rammang banyak dikunjungi. Pengalaman yang jarang ditemukan di tempat lain. Oleh karena itu, rasanya sayang jika belum berkunjung. Lagian, tempatnya tidak terlalu jauh dari Makassar.

Rencana perjalananpun akhirnya disusun. Minggu, 20 September 2015, tepatnya Pukul 09.00 Wita waktu kumpul yang ditentukan. Namun kami baru berangkat satu jam setelahnya. Sebanyak empat motor  mulai melaju melewati perbatasan Makassar-Maros. Dan tak terasa, kurang lebih setengah jam kami pun tiba di Dermaga Rammang-Rammang, Desa Salenrang. Saat tiba, beberapa mobil dan motor telah terparkir disana. Malah beberapa rombongan terlihat antri naik ke atas perahu. Rupanya, selain kami, banyak juga yang tertarik ke rammang-rammang hari itu.

Soal sewa perahu, berdasarkan hasil keputusan antara pemerintah desa dan pemilik perahu per 13 Agustus 2015, tarif ditentukan berdasarkan jumlah penumpang. Untuk jumlah penumpang  satu hingga empat orang sewanya Rp. 200.000,-, lima hingga tujuh orang Rp.250.000,- dan delapan hingga sepuluh orang ke atas Rp.300.000. Oleh karena kami hanya bertujuh, maka kami menyewa satu kapal dengan tarif sebesar Rp.250.000,-.

Dari dermaga, kami mulai menyusuri sungai  dengan barisan pohon nipa di sisi kiri dan kanannya. Selain itu, jejeran pegunungan yang nampak dikejauhan membuat pemandangan tambah eksotis. Sesekali kami melewati beberapa batu gunung dan terowongan batu. Untuk memudahkan perjalanan, pemerintah menambah beberapa marka (petunjuk) jalan seperti tikungan tajam, jalan berkelok, dan persimpangan.

Setelah kurang lebih 10 menit di atas perahu, akhirnya sampai juga di Desa Rammang-rammang. Sepanjang desa nampak sawah dan beberapa tambak yang dikelilingi oleh gunung yang menjulang. Namun sayangnya kami berkunjung di musim kering. Sehingga tampak gersang. Lebih baik berkunjung saat musim tanam. Sehingga bisa melihat suasana alam pedesaan yang hijau dan segar dibalut dengan pemandangan latar gunung yang elok.

Selama berkunjung di Rammang rammang, nampak pemerintah setempat mulai sadar akan potensi wisata yang dimiliki. Sehingga beberapa fasilitas seperti mushallah, pendopo, dan dermaga mulai dibangun dan diperbaiki. Selain itu, awal September lalu, pemerintah melalui Dinas Pariwisata telah menyelenggarakan Festival Rammang-Rammang, sebagai bentuk pengenalan rammang-rammang sebagai objek pariwisata baru.

Petualangan tak hanya sampai disitu. Setelah kembali  ke dermaga, masih ada satu tempat yang tak kalah menarik. Yakni sebelum dermaga terdapat satu lokasi yang menyimpan gugusan batu-batu cadas karst yang menjulang. Pemandangan batu karst ini terbilang unik, karena sangat jarang ditemukan di tempat lain.

Berikut dokumentasi selama perjalanan.



Dermaga Rammang-rammang








14 February 2015

Menginjakkan Kaki di Borneo Island

“Saya ingin menjejakkan kaki di Pulau Kalimantan” Tiba-tiba pikiran tersebut muncul di kepalaku kala mahasiswa. Tidak ada hal istimewa dari keinginan tersebut. Hanya sekadar menjawab rasa penasaran.  Penasaran akan budaya, kehidupan, dan keunikan pariwisatanya. 

Rasa-rasanya hampir sama dengan seorang astronot yang mencoba menjejakkan kaki ke bulan ataupun planet lain selain bumi. Meski telah banyak referensi tentang bulan dan planet tata surya lainnya, tapi Sang astronot tak pernah benar-benar tahu, seperti apa bulan sebenarnya sebelum dia menyaksikannya secara langsung. Ya, rasanya seperti itu.

Dan keinginan itu baru terwujud setelah sembilan tahun. Saat seorang rekan kerja mengajak melakukan perjalanan ke Kalimantan Timur (Kaltim). Tak banyak persiapan. Hanya hunting tiket yang bikin was-was. Karena, perjalanan akan dilakukan di malam pergantian tahun. Selain itu, waktu hunting tersisa dua minggu sehingga harga tiket bisa melambung tinggi.  Jika harga tidak terjangkau, rencana berangkat terpaksa dibatalkan.

Tapi dewi keberuntungan masih berpihak kepada kami. Diluar dugaan, kami mendapatkan tiket Garuda dengan harga yang pas di kantong.

Cerita Sebelum Berangkat

Setelah tiket di tangan, persiapan selanjutnya yakni mempersiapkan rute perjalanan. Mulai dari tempat nginap, tempat wisata yang akan dikunjungi, moda transportasi yang digunakan hingga semua biaya yang perlu dipersiapkan. Semua cara digunakan untuk mencari informasi tersebut. Mulai dari Browsing hingga menelpon kerabat. Intinya tak boleh ada yang terlewat. Karena ini perjalanan pertama kali dan kami tidak tahu seperti apa Kaltim itu. Setelah semua beres, sisa menghitung mundur hari keberangkatan.

Namun, sebuah berita mengejutkan datang sekitar tiga hari sebelum berangkat. Terdengar kabar sebuah pesawat kehilangan kontak. Ya, pesawat AirAsia QZ8501 dan belum ditemukan. Berita ini membuat kami berpikir ulang.

“Apa perlu melanjutkan perjalanan?”
 “Atau biarkan saja tiketnya hangus”


 Ada rasa khawatir yang timbul. Takut, pesawat yang akan kami tumpangi bernasib sama dengan pesawat yang lagi heboh jadi perbincangan media.

“Ini soal nyawa, dan tak boleh dijadikan permainan!” 
Ya, begitulah pemikiran yang muncul.

Tapi, setelah dipikir-pikir. Semua persiapan telah selesai. Apakah harus mundur karena khawatir akan sesuatu yang belum pasti. Toh, kalau memang waktunya telah tiba. Tidak di darat, di laut atau pun udara, tidak akan ada yang bisa menghalangi. Jadi bismillah saja. BISMILLAH, dan dengan mantap, kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan yang telah kami susun. BISMILLAH.

Terbang Ke Kalimantan

Alhamdulillah, selama perjalanan rasa takut, was-was, akibat kabar pesawat yang jatuh sedikit berkurang. Goncangan yang dikhawatirkan selama perjalanan tidak terjadi. Malah kami sangat menikmati perjalanan di atas pesawat. Apalagi disuguhi makanan di atas meja, alunan musik di telinga dan tambahan jus yang disiapkan oleh pramugari. Ya, lengkap sudah. Meski kelas ekonomi tapi serasa berada di kelas bisnis.

Pesawat mulai takeoff dan meninggalkan Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, pukul 18.00 dan tiba di Bandara sepinggang, Balikpapan sekira pukul 19.00. Saat menginjakkan kaki di Bandara Sepinggang, kami tertarik dengan wallpaper yang dipajang di dinding-dinding bandara. Rupanya ini salah satu trik pemerintah memperkenalkan keunikan Kaltim. Mulai dari penari dayak yang cantik, pemandangan hutan tropis, dan juga hewan khas kaltim yakni orang utan. Gambar-gambar tersebut, membuat betah. Tapi perjalanan masih panjang. Butuh tiga hingga empat jam lagi menuju Samarinda. Kami tidak ingin melewatkan pertunjukan kembang api di pinggiran Sungai Mahakam. Oleh karena itu, kami mempercepat langkah menuju loket bus Kanggoroo.

Rencana awal, kami naik Kanggoroo ke Samarinda dengan harga 135.000,- per orang. Namun, saat antri di loket, teriakan sopir mobil rental yang menawarkan harga 125.000,- per orang membuat kami tergoda. Padahal perbedaannya hanya sepuluh ribu. Jadinya kami menggunakan mobil rental.

Tapi layaknya sebuah perjalanan, selalu ada kejutan. Ya, terjadi hal yang tidak diperhitungkan. Dari dalam mobil, aroma alkohol menyeruak kemana-mana. Baunya menyengat. Rupanya sang driver habis minum. Ketakutan pun menghantui sepanjang perjalanan. Terbersit pemikiran, kalau-kalau di tengah perjalanan kami dirampok, atau di tempat duduk belakang sudah ada orang yang menunggu layaknya di film-film. Tapi ketakutan itu sirna kala saya memikirkan bahwa ada Allah SWT yang melindungi. Dan tak akan terjadi apa-apa. Akhirnya saya pun, memutuskan untuk menikmati perjalanan, melihat keluar kaca mobil, dan sesekali mengobrol dengan sang driver.

Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya, tiba juga di Samarinda. Di tepi Sungai Mahakam. Ditempat ini, saya menghabiskan waktu menikmati pertunjukan kembang api yang berkilat kilatan. Hampir di sepanjang sungai, orang-orang membakar kembang api. Tak hanya itu, di seberang sungai pun, orang saling berbalasan kembang api. Dan akhirnya, tahun pun berganti dan keinginan menginjakkan kaki di Kalimantan pun tercapai. Happy New Year.

Berikut Dokumentasi perjalanan menyusuri Samarinda, Tenggarong dan Bontang.

Bandara Sepinggang, Balikpapan 

Akibat runtuhnya jembatan kutai, menyeberang ke tenggarong menggunakan kapal penyeberangan

Bersantai sejenak di Planetarium Tenggarong yang katanya hanya ada empat planetarium di Indonesia. Salah satunya di Tenggarong

Berkunjung ke museum kota di Tenggarong. 


Akhirnya menginjakkan kaki juga di Kalimantan



Tes melayang di udara dengan permainan flying fox. dengan jarak tiga ratus meter.






11 January 2015

Sunrise, Lautan Pasir, dan Kawah Gunung Bromo

Menanti sunrise di Bromo

Dini hari, saya tiba di Desa Cemorolawang, desa terakhir sebelum menuju ke Gunung Bromo. Suasana sekitar masih gelap, dan hanya dibantu oleh beberapa penerangan lampu dan bantuan senter. Jika tidak, suasana pasti gelap gulita. Pukul 03.00 dini hari kira kira saya sampai. Jam segitu, orang orang kota masih terlelap. Tapi di desa ini,  penduduk desa malah berkeliaran. Setiap bus atau kendaraan yang baru parkir pasti dikerumuni.  
Saat tiba saja, bus yang saya tumpangi dikerumungi penduduk desa dengan menenteng ragam asksesoris seperti syal yang dirajut, topi, sapu tangan dan bahkan jaket. Layaknya pasar dimana terjadi proses jual beli dan saling tawar menawar. Dengan lincah penduduk desa menawarkan jualannya.

“Kaos tangan,syal, lima ribu pak, lima belas ribu pak,” teriak kerumunan itu. Banyaknya pelancong yang datang ke bromo membawa rejeki tersendiri bagi penduduk lokal. Mereka menjual aneka macam. Ada syal, kaos tangan,  dan penutup kepala dengan motif tulisan bromo. Selain itu, ada juga yang menyewakan jaket. Harganya beragam mulai dari lima ribu untuk kaos tangan, lima belas ribu untuk syal dan kupluk serta 20 ribu untuk sewa jaket. Tapi, saya tidak membeli apa apa karena semua perlengkapan itu sudah saya siapkan sebelum berangkat.

Saat turun dari bus, udara dingin mulai merangsek masuk ke dalam tubuh. Nampaknya suhu berada dibawah nol derajat. Meski telah mengenakan jaket tebal lengkap dengan kaos tangan dan penutup kepala, tapi udara dinginnya masih terasa. Tapi berkat udara dingin ini, sensasi wisata bromo jadi terasa.

Di sisi lain desa, Nampak ratusan jeep hardtop berjejeran. Mobil jeep ini lah yang digunakan untuk sampai ke bromo. Sewa satu jeep sekitar 500 ribu hingga 750 ribu rupiah. Dan kapasitasnya sekitar enam orang. Menurut salah satu sopir jeep yang saya temui, total seluruh jeep mencapai 500 mobil. Jumlah ini diluar dugaan saya.
Tak berapa lama, satu per satu pelancong mulai menaiki jeep yang mereka sewa termasuk saya. Setelah penuh, mobil jeep mulai melaju dan menembus gelap dan dinginnya subuh hari. Tak ada yang menyalip karena jalanan sempit dan sisinya jurang. Jadi sepanjang jalan menuju bromo hanya dilalui jeep. jika dilihat dari atas maka akan tampak seperti gerbong gereta yang saling kait mengait.

Mobil Jeep di Penanjakan
Tak berapa lama, jeep mulai berhenti. Suasana masih gelap. Dilangit, bintang masih berkerlap kerlip. Di pemberhentian ini disebut penanjakan. Dari sini pelancong mulai berjalan melewati jalan setapak menuju bukit. Penerangan yang digunakan hanya senter. Setiap pelancong hati hati berjalan. Soalnya, salah sedikit bisa jatuh terperosok ke jurang.

Saat tiba di atas, rupanya sudah banyak orang dengan macam gaya dan aktifitas. Ada yang sibuk mengambil gambar dan video. Ada yang hanya duduk. Ada juga yang mulai menyetel kamera dengan tripodnya. Dan kami yang baru datang mulai mencari posisi yang nyaman sambil sesekali mengambil gambar. Suasana masih gelap dengan senter sebagai penerang. Udara rasanya semakin dingin. Tangan saya mulai kaku. Seolah-olah membeku. Beberapa kali saya saling menggosokkan kedua telapak tangan sambil sesekali meniupnya agar tidak terlalu kedinginan.  

Setelah beberapa jam, langit mulai terlihat memerah. Gelapnya malam berangsur menghilang. Puncak Gunung Bromo mulai terlihat diselimuti kabut putih tebal. Orang orang mulai mengabadikan momen dengan latar belakang matahari terbit Bromo. Mereka tak berhenti memotret seolah-olah setiap detik momen itu sangat berharga.

Pelancong mengabadikan momen sesaat setelah sunrise di Bromo

Pemandangan seperti ini memang sangat jarang dijumpai. Layaknya menikmati sebuah maha karya dari kekuasaan yang esa. Langit dengan corak kemerah merahan, Gunung Bromo yang menjulang diselimuti kabut putih tebal dengan pantulan sinar matahari pagi nan elok. Ditambah udara pagi yang menyegarkan. Sontak rasa dingin mulai dilupakan terganti dengan rasa senang menyaksikan mahakarya yang luar biasa.

Lautan Pasir, Padang Savana

Lautan pasir Bromo yang luasnya mencapai 2000 hektar

Puas disuguhi pemandangan pagi yang elok, perjalanan dilanjutkan menuju padang savanna. Tapi sebelum itu, saya menikmati suguhan pisang goreng dan mie instan di bawah bukit penanjakan untuk mengganjal perut dan menghangatkan badan. Dengan duduk disini, saya baru bisa melihat dengan jelas ragam pelancong dari berbagai negara. Ada dari India, China dan beberapa Negara Negara Eropa.

Tak  lama, semua pelancong melanjutkan perjalanan menuruni bukit. Tujuan selanjutnya adalah lautan pasir sisa peninggalan letusan Gunung Bromo. Luasnya sampai sekira dua ribu hektar. Di sini  saya merasakan sensasi off road mobil jeep. Dimana mobil jeep melaju dengan kecepatan tinggi, menembus kabut tebal yang membatasi jarak pandang hanya sampai satu hingga dua meter. Meski jarak pandang terbatas, tapi mobil jeep tetap melaju dengan kecepatan tinggi dan sopir jeep tahu kemana harus mengarahkan mobilnya. Setiap undakan pasir membuat mobil melompat dan kemudian kembali melaju dengan cepat.

Bagaikan balapan, mobil-mobil jeep yang lain pun melaju dengan cepat layaknya mengincar posisi pertama. Saya yang duduk di kursi belakang merasakan keseruan tersendiri dan rasanya ingin mengambil alih kemudi dan mulai balapan dengan jeep lainnya. Hehehe…

Di bukit savanna, mobil mobil jeep mulai parkir dan para pelancong kembali mengabadikan momen. Disini ratusan mobil mobil jeep yang terparkir merupakan momen tersendiri menurutku. Jarang bisa melihat hal itu apalagi lokasinya di padang pasir.

Kawah Gunung Bromo
Kawah Bromo

Setelah puas balap-balapan, petualangan selanjutnya yakni perjalanan menuju kawah Gunung Bromo yang masih aktif hingga sekarang. Sebenarnya untuk mencapai kawah bisa menunggang kuda dengan membayar sekitar lima puluh ribu rupiah. Perjalanan akan lebih cepat. Namun, saya lebih memilih jalan kaki di atas lautan pasir. Alhasil, waktu yang dibutuhkan cukup lama ditambah ngos ngosan, dan sempat merasakan debu pasir yang tertiup anging. Ditambah lagi, untuk sampai di bibir kawah, harus menaiki 250 anak tangga yang agak miring. Jadi betul betul menghabiskan energi ekstra.

Tapi saya merasakan keseruan tersendiri, bagai sang musafir yang melakukan perjalanan di padang pasir menggunakan masker menembus badai pasir. Dalam perjalanan sesekali merindukan oase dan pohon yang rindang untuk berteduh.

Sampai puncak, saya merasa perjalanan yang begitu jauh awalnya, rupanya bisa juga ditempuh dengan berjalan kaki dan akhirnya berhasil juga. Dari puncak, melihat ke tempat awal jalan kaki, sungguh terlihat tempat yang sangat jauh dan jika dipikirkan, perjalanan itu melelahkan. Tapi setelah dijalani, ternyata perjalanan itu seru juga. Meski memang capek. Hehehe.

Pemandangan dari bawah melihat ke puncak memang selalu dibayangi dengan ketakutan apakah bisa sampai disana. Tapi setelah dipuncak kita akan bersyukur untuk setiap langkah yang ditempuh. Dan akan selalu bersyukur dengan setiap proses yang dilewati.

Akhirnya, perjalanan bromo menyimpan keindahan mahakarya yang luar biasa. Dan ini merupakan salah satu perjalanan yang seru sekaligus menyenangkan.

 Dokumentasi perjalanan menuju Kawah Gunung Bromo:














28 October 2012

Lomba Blog update Oktober 2012

Setelah melakukan pencarian di om google. Ternyata bulan ini, banyak yang ngadain lomba blog. Temanya sangat beragam. Mulai dari promosi daerah wisata hingga ajang promosi produk. Hadiahnya juga lumayan buannyyaaakkk. Mulai dari gadget terbaru hingga uang jutaan rupiah. Sayang jika tak dicoba. Kata tetangga saya sih, dicoba tak mengapa, siapa tahu beruntung. 

Berikut beberapa lomba yang berhasil terekam monitor:

17 September 2012

Mencoba untuk Ikhlas

Terkadang apa yang saya inginkan belum tentu itulah yang saya dapatkan.
Terkadang apa yang telah saya rencanakan belum tentu berjalan sesuai rencana.

Akan selalu ada tangan tangan yang tak terlihat.

yang akan selalu membimbing kemana kaki ini melangkah.

Karena belum tentu juga apa yang kita rencanakan itu adalah yang terbaik.
karena ku tahu ada yang mengatur itu semua dan akan memilihkan jalan yang terbaik untukku.

Perjalanan masih panjang.
cobalah untuk bersikap ikhlas.
dan jangan menyalahkan orang lain atas keputusan yang kamu buat.

Anggap saja ini adalah tahap dimana kita berbelok menuju jalan yang lebih baik.


25 April 2012

Perempuan dan Lagi...Lagi....Lagi....

Sebenarnya acara teater ini telah berlalu hampir satu bulan. Tapi baru kali ini sempat posting. Teater yang dikemas dengan nama spektrum 2012 ini mengangkat dua tema. Pertama Perempuan dan yang kedua lagi...lagi...lagi...

Kedua tema ini dipentaskan dengan sangat menarik oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Unhas. Bertempat di Baruga A Pangerang Pettarani, pementasan berlangsung hingga 3 jam. Tak hanya pementasan teater, pementasan ini juga menampilkan tarian dan nyanyian yang merdu. Diiringi tabuhan gendang dan petikan melodi gitar yang enak didengar.

Diantara kedua tema diatas, keduanya memiliki keunikan tersendiri. teater Perempuan mencoba menggambarkan sebuah realitas yang terjadi di masyarakat. Bagaimana sosok perempuan yang mempunyai keinginan bebas berkarya. Namun terhadang oleh norma yang tak tertulis. Sesosok perempuan yang memiliki ketertarikan pada fotographi namun pekerjaan ini dinilai oleh orang tuanya tidak cocok untuk perempuan. Harusnya perempuan itu merajuk atau apalah yang sifatnya feminim. Bukan malah keliaran tak jelas di jalanan dan memotret sana sini.

23 April 2012

Plus-Minus New Media

Pernah tidak memperhatikan aktifitas orang belakangan ini. Misalnya orang yang lagi duduk di café, warung kopi, tempat kerja atau pun di kampus. Apa yang sering anda lihat. Kebanyakan aktifitas yang mereka lakukan duduk sembari memainkan gadget masing masing. Kadang kadang tertawa dan senyum senyum sendiri.

Meski berada di keramaian, mereka tetap sibuk dengan dunianya sendiri. Tak lagi ada bincang panjang di koridor atau pun meja. Hampir semua pembicaraan beralih ke dunia siber. Bahkan untuk mengatakan say hello dilakukan di dunia siber. Padahal mungkin mereka hanya duduk bersebelahan. Betul betul pergaulan dunia mulai bergeser. Dunia seakan hanya berputar didalam gadget yang mereka gunakan.